Mengurai Penyebab Utama Administrasi Guru Hanya Berakhir Jadi Formalitas


iernasuela.blogspot.com. Dilema administrasi guru hari ini bukan lagi rahasia umum di dunia pendidikan. Di atas kertas, perangkat pembelajaran tampak sangat rapi, terstruktur, dan sempurna.

Namun saat melangkah ke dalam ruang kelas, realitas menunjukkan hal yang bertolak belakang: administrasi pembelajaran sering kali berakhir hanya sebagai tumpukan kertas formalitas untuk menggugurkan kewajiban penilain kinerja semata.

Pihak terkait selalu menyarankan guru untuk mengembangkan diri melalui pelatihan/workshop, baik secara online maupn ofline, dan bahkan pengawas Pembina di setiap Madrasah/Sekolah selalu menggalakkan pelatihan dan arahan di setiap sekolah binaan, namun tidak bisa dilaksanakan oleh dewan guru.

Menurut Pk. Juhairi, S.Pd.I salah seorang guru MIS.MT.Suela.
keengganan sebagian guru dalam melengkapi administrasi bukan dipicu oleh rasa malas, melainkan terbatasnya waktu dan energi.

"Fokus utama guru seharusnya mendampingi dan memahami kebutuhan siswa, bukan sekadar memindahkan teks ke atas kertas form administrasi. Kami butuh sistem yang lebih ringkas agar energi kami kembali utuh untuk mengajar di kelas," ujar Pk. Juhairi, S.Pd.I.

Ia berharap ke depan ada penyederhanaan format administrasi agar para guru dapat lebih fokus pada esensi pengajaran dan pendekatan personal kepada murid-muridnya, jika dituntun membuat RPP cukup menggunakan format 1 lembar.

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan dokumen-dokumen ini tidak pernah benar-benar terealisasi dalam kegiatan belajar-mengajar di lapangan.

1. Kurikulum yang Sering Gonta-Ganti

Pergantian kebijakan dan pergantian kurikulum yang terlalu sering membuat guru selalu berada dalam kondisi kelelahan adaptasi.

Belum sempat menguasai satu metode dan menanamkan pendekatan tersebut secara mendalam kepada siswa, kurikulum baru sudah diluncurkan dengan istilah, format, dan filosofi yang berbeda.

Akibatnya, fokus guru terus-menerus terserap untuk memahami format laporan baru ketimbang mengasah kualitas penyampaian materi.

Nyata sudah bahwa guru adalah ajang percobaan kurikulum yang membosankan dan bahkan membuat kepala guru menjadi pusing, sementara perbincangan kurikulum terus menjadi jadi sehingga sampai ajang bisnis semata.

2. RPP Hasil Generasi AI Tanpa Kontekstualisasi

Menghadapi tenggat waktu pembuatan dokumen yang sangat padat, kini banyak guru beralih menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Kemudahan teknologi ini memang menjadi penyelamat untuk menyelesaikan berkas secara cepat.

Sayangnya, RPP yang dihasilkan AI kerap kali terlalu idealis, kaku, dan lepas dari dinamika kelas. Dokumen tersebut tampak hebat secara teori, tetapi terasa asing dan tidak praktis saat dicoba pada siswa nyata.

Tidak halnya membuat RPP menggunakan tulis tangan dan 1 lembar, terlihat unggul pada ikatan emosional dan pemahaman mendalam guru terhadap rancangan pembelajarannya, dan sesuai dengan realitas di dalam kelas.

3. Metode yang Tidak Sesuai Kondisi Sekolah

Banyak rancangan metode pembelajaran di dalam dokumen administrasi dibuat dengan mengasumsikan fasilitas sekolah dalam kondisi ideal: koneksi internet cepat, ruang kelas modern, alat peraga lengkap, dan jumlah siswa yang ideal.

Kenyataannya, mayoritas sekolah masih berjuang dengan keterbatasan sarana dan prasarana. Ketika metode di atas kertas bentrok dengan keterbatasan fasilitas sekolah, guru tidak punya pilihan lain selain meninggalkan rencana tersebut dan kembali ke metode pengajaran seadanya.

Bila dibandingkan dengan RPP yang ditulis tangan oleh guru, metodenya terarah, jelas dan tidak kaku, karena disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kondisi peserta didik. Jadi RPP tulis tangan lebih efesien dibandingkan dengan RPP bautan AI.

4. Beban Administrasi Menyita Waktu Mengajar

Ini adalah keluhan paling nyata dari mayoritas guru saat ini. Pendidik tidak bisa lagi fokus mendampingi siswa karena waktu, energi, dan pikiran mereka habis terkuras untuk merapikan berkas administrasi.

Jam kerja yang seharusnya digunakan untuk menyiapkan media pembelajaran yang menarik, mengevaluasi pemahaman murid, atau merangkul siswa yang tertinggal, justru habis di depan layar laptop hanya untuk mengisi belasan jenis format laporan yang belum tentu dibaca secara detail.

Oleh karena itu, dari pada guru menyita waktunya di depan laptop, alangkah baiknya membuat administrasi terutama RPP menggunakan tulis tangan dan formatnya yang menggunakan 1 lembar.

Perlunya Perubahan Nyata

Kondisi ini menciptakan iklim yang tidak sehat dalam dunia pendidikan kita. Guru perlahan bergeser peran dari seorang fasilitator pembelajaran menjadi pekerja administratif.

Ketika perhatian utama pendidik terdistraksi dari manusia (siswa) ke lembaran kertas (dokumen), maka kualitas interaksi dan kedalaman materi pembelajaran yang dikorbankan.

Sudah saatnya ada langkah konkret untuk membenahi masalah ini. Pemerintah dan pembuat kebijakan perlu menyederhanakan perangkat pembelajaran menjadi bentuk yang paling esensial. Biarkan administrasi berfungsi sebagai peta navigasi yang fleksibel, bukan beban yang membelenggu.

Bebaskan guru dari labirin kertas agar mereka dapat kembali pada tugas mulianya: mendidik, membimbing, dan menginspirasi generasi masa depan.

Adapun mengenai administrasi terutama RPP, cukup 1 lembar saja dan menggunakan tulis tangan.

Perbedaan RPP tulis tangan dengan buatan AI

Tulis tangan unggul pada ikatan emosional dan pemahaman mendalam guru terhadap rancangan pembelajarannya, dan sesuai dengan realitas di dalam kelas.

Menggunakan AI unggul dalam kecepatan, efisiensi waktu, dan variasi ide, tetapi tetap memerlukan touch of human (sentuhan guru) untuk menyelaraskannya dengan realitas di dalam kelas.

Post a Comment

0 Comments