Namun saat
melangkah ke dalam ruang kelas, realitas menunjukkan hal yang bertolak
belakang: administrasi pembelajaran sering kali berakhir hanya sebagai tumpukan
kertas formalitas untuk menggugurkan kewajiban penilain kinerja semata.
Pihak terkait
selalu menyarankan guru untuk mengembangkan diri melalui pelatihan/workshop,
baik secara online maupn ofline, dan bahkan pengawas Pembina di setiap
Madrasah/Sekolah selalu menggalakkan pelatihan dan arahan di setiap sekolah
binaan, namun tidak bisa dilaksanakan oleh dewan guru.
Menurut Pk. Juhairi, S.Pd.I salah seorang guru MIS.MT.Suela.
keengganan sebagian guru dalam melengkapi
administrasi bukan dipicu oleh rasa malas, melainkan terbatasnya waktu dan
energi.
"Fokus
utama guru seharusnya mendampingi dan memahami kebutuhan siswa, bukan sekadar
memindahkan teks ke atas kertas form administrasi. Kami butuh sistem yang lebih
ringkas agar energi kami kembali utuh untuk mengajar di kelas," ujar Pk. Juhairi, S.Pd.I.
Ia berharap ke
depan ada penyederhanaan format administrasi agar para guru dapat lebih fokus
pada esensi pengajaran dan pendekatan personal kepada murid-muridnya, jika dituntun membuat RPP cukup menggunakan format 1 lembar.
Ada beberapa
faktor utama yang menyebabkan dokumen-dokumen ini tidak pernah benar-benar
terealisasi dalam kegiatan belajar-mengajar di lapangan.
1. Kurikulum yang Sering
Gonta-Ganti
Pergantian
kebijakan dan pergantian kurikulum yang terlalu sering membuat guru selalu
berada dalam kondisi kelelahan adaptasi.
Belum sempat
menguasai satu metode dan menanamkan pendekatan tersebut secara mendalam kepada
siswa, kurikulum baru sudah diluncurkan dengan istilah, format, dan filosofi
yang berbeda.
Akibatnya,
fokus guru terus-menerus terserap untuk memahami format laporan baru ketimbang
mengasah kualitas penyampaian materi.
Nyata sudah
bahwa guru adalah ajang percobaan kurikulum yang membosankan dan bahkan membuat
kepala guru menjadi pusing, sementara perbincangan kurikulum terus menjadi jadi
sehingga sampai ajang bisnis semata.
2. RPP Hasil Generasi AI
Tanpa Kontekstualisasi
Menghadapi
tenggat waktu pembuatan dokumen yang sangat padat, kini banyak guru beralih
menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk menyusun
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Kemudahan teknologi
ini memang menjadi penyelamat untuk menyelesaikan berkas secara cepat.
Sayangnya, RPP
yang dihasilkan AI kerap kali terlalu idealis, kaku, dan lepas dari dinamika
kelas. Dokumen tersebut tampak hebat secara teori, tetapi terasa asing dan
tidak praktis saat dicoba pada siswa nyata.
Tidak halnya
membuat RPP menggunakan tulis tangan dan 1 lembar, terlihat unggul pada ikatan
emosional dan pemahaman mendalam guru terhadap rancangan pembelajarannya, dan
sesuai dengan realitas di dalam kelas.
3. Metode yang Tidak Sesuai
Kondisi Sekolah
Banyak
rancangan metode pembelajaran di dalam dokumen administrasi dibuat dengan
mengasumsikan fasilitas sekolah dalam kondisi ideal: koneksi internet cepat,
ruang kelas modern, alat peraga lengkap, dan jumlah siswa yang ideal.
Kenyataannya,
mayoritas sekolah masih berjuang dengan keterbatasan sarana dan prasarana.
Ketika metode di atas kertas bentrok dengan keterbatasan fasilitas sekolah,
guru tidak punya pilihan lain selain meninggalkan rencana tersebut dan kembali
ke metode pengajaran seadanya.
Bila dibandingkan
dengan RPP yang ditulis tangan oleh guru, metodenya terarah, jelas dan tidak
kaku, karena disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kondisi peserta didik. Jadi
RPP tulis tangan lebih efesien dibandingkan dengan RPP bautan AI.
4. Beban Administrasi Menyita
Waktu Mengajar
Ini adalah
keluhan paling nyata dari mayoritas guru saat ini. Pendidik tidak bisa lagi
fokus mendampingi siswa karena waktu, energi, dan pikiran mereka habis terkuras
untuk merapikan berkas administrasi.
Jam kerja yang
seharusnya digunakan untuk menyiapkan media pembelajaran yang menarik,
mengevaluasi pemahaman murid, atau merangkul siswa yang tertinggal, justru
habis di depan layar laptop hanya untuk mengisi belasan jenis format laporan
yang belum tentu dibaca secara detail.
Oleh karena
itu, dari pada guru menyita waktunya di depan laptop, alangkah baiknya membuat
administrasi terutama RPP menggunakan tulis tangan dan formatnya yang menggunakan
1 lembar.
Perlunya Perubahan Nyata
Kondisi ini
menciptakan iklim yang tidak sehat dalam dunia pendidikan kita. Guru perlahan
bergeser peran dari seorang fasilitator pembelajaran menjadi pekerja
administratif.
Ketika
perhatian utama pendidik terdistraksi dari manusia (siswa) ke lembaran kertas
(dokumen), maka kualitas interaksi dan kedalaman materi pembelajaran yang
dikorbankan.
Sudah saatnya ada langkah
konkret untuk membenahi masalah ini. Pemerintah dan pembuat kebijakan perlu
menyederhanakan perangkat pembelajaran menjadi bentuk yang paling esensial.
Biarkan administrasi berfungsi sebagai peta navigasi yang fleksibel, bukan
beban yang membelenggu.
Bebaskan guru dari labirin
kertas agar mereka dapat kembali pada tugas mulianya: mendidik, membimbing, dan
menginspirasi generasi masa depan.
Adapun mengenai administrasi
terutama RPP, cukup 1 lembar saja dan menggunakan tulis tangan.
Perbedaan RPP tulis tangan dengan buatan AI
Tulis tangan unggul pada ikatan emosional dan pemahaman mendalam guru terhadap rancangan pembelajarannya, dan sesuai dengan realitas di dalam kelas.
Menggunakan AI unggul dalam kecepatan,
efisiensi waktu, dan variasi ide, tetapi tetap memerlukan touch of human
(sentuhan guru) untuk menyelaraskannya dengan realitas di dalam kelas.

0 Comments