Tidak sedikit guru yang merasa harus terus
beradaptasi tanpa sempat menguasai sistem sebelumnya secara menyeluruh. Lantas,
mengapa perasaan menjadi "Guru bahan uji coba" ini begitu nyata di
ruang kelas, dan bagaimana dampaknya terhadap proses belajar-mengajar?
1. Beban Administrasi yang
Terus Berubah
Perubahan kurikulum umumnya tidak hanya mengubah
cara mengajar, tetapi juga format administrasi. Guru yang baru saja terbiasa
membuat rancangan pembelajaran dengan format tertentu harus mempelajari format
baru yang belum tentu lebih sederhana.
Waktu dan energi yang seharusnya dialokasikan
untuk merancang interaksi bermakna bersama siswa sering kali habis untuk
menyesuaikan dokumen administratif.
Dengan seringnya gonta ganti kurikulum menjadikan guru
malas untuk membuat rancangan pembelajaran (administrasi pembelajaran).
Bahkan gurupun memiliki pandangan yang sangat
relefan, bahwa seorang guru adalah bahan uji coba proyek kurikulum, belum
tuntas satu, diganti atau ditambah lagi dengan kurikulum yang baru.
2. Pelatihan yang Belum
Merata
Dalam merancang pembelajaran, guru di berikan
pelatihan baik secara online maupun ofline, namun belum selesai hasil pelatihan
di laksanakan, ada lagi perubahan atau penambahan kurikulum yang baru.
Karena sering terjadinya perubahan atau penambahan
kurikulum, membuat guru tidak lagi membuat administrasi pembelajaran.
Idealnya, setiap perubahan besar didampingi oleh
pelatihan yang tuntas dan menyeluruh. Namun, kendala geografis dan jangkauan
sering membuat sosialisasi di daerah terasa terburu-buru.
Akibatnya, pemahaman antar-guru di satu sekolah
atau antar-daerah bisa sangat beragam. Sebagian guru terpaksa menerapkan aturan
baru sembari meraba-raba di dalam kelas dan cukupkan dengan menggunakan buku
paket saja.
3. Garis Depan yang
Menanggung Semua Dampak
Ketika kurikulum baru dinilai kurang efektif atau
membingungkan, kritikan pertama dari masyarakat maupun orang tua murid sering
kali tertuju pada guru di sekolah. Padahal, guru hanya bertindak sebagai
pelaksana kebijakan, bukan penentu keputusan utama.
Akibat gonta ganti kurikulum, guru tidak peduli
dengan administratif sehingga di cukupkan dengan buku paket yang ada.
Menghadapi Perubahan Tanpa
Kehilangan Arah
Dengan seringnya gonta ganti kurikulum membuat
guru jadi bingung dalam membuat administratif, terasa jelas bahwa guru sebagai
ladang uji coba dalam perkembangan pendidikan sejak Era Orde Baru, Era Reformasi hingga sekarang ini.
Di tengah ketidakpastian perubahan, hal terpenting
yang perlu dijaga adalah esensi dari mengajar itu sendiri: hubungan
emosional, pengayoman, dan proses pendampingan siswa yang paling utama.
Teknis dan nama kurikulum boleh saja berganti,
tetapi pendekatan yang berfokus pada kebutuhan siswa serta ruang kelas yang
penuh rasa aman dan kepedulian akan selalu relevan kapan pun, fokus pada materi
yang akan disampaikan, hidupkan suasana pembelajan yang aktif dan efektif.

0 Comments