Mengapa Guru Sering Terlihat Seperti 'Bahan Uji Coba' Setiap Kali Kurikulum Berubah?

iernasuela.blogspot.com. Kurikulum berubah guru terlihat seperti uji coba, setiap kali ada pergantian kepemimpinan atau arah kebijakan pendidikan, perubahan kurikulum hampir selalu menjadi topik utama. 

Di atas kertas, setiap kurikulum baru dirancang dengan niat mulia: menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan zaman. Namun, realitas di lapangan kerap memberikan dinamika yang berbeda bagi para pendidik.

Tidak sedikit guru yang merasa harus terus beradaptasi tanpa sempat menguasai sistem sebelumnya secara menyeluruh. Lantas, mengapa perasaan menjadi "Guru bahan uji coba" ini begitu nyata di ruang kelas, dan bagaimana dampaknya terhadap proses belajar-mengajar?

1. Beban Administrasi yang Terus Berubah

Perubahan kurikulum umumnya tidak hanya mengubah cara mengajar, tetapi juga format administrasi. Guru yang baru saja terbiasa membuat rancangan pembelajaran dengan format tertentu harus mempelajari format baru yang belum tentu lebih sederhana.

Waktu dan energi yang seharusnya dialokasikan untuk merancang interaksi bermakna bersama siswa sering kali habis untuk menyesuaikan dokumen administratif.

Dengan seringnya gonta ganti kurikulum menjadikan guru malas untuk membuat rancangan pembelajaran (administrasi pembelajaran).

Bahkan gurupun memiliki pandangan yang sangat relefan, bahwa seorang guru adalah bahan uji coba proyek kurikulum, belum tuntas satu, diganti atau ditambah lagi dengan kurikulum yang baru.

2. Pelatihan yang Belum Merata

Dalam merancang pembelajaran, guru di berikan pelatihan baik secara online maupun ofline, namun belum selesai hasil pelatihan di laksanakan, ada lagi perubahan atau penambahan kurikulum yang baru.

Karena sering terjadinya perubahan atau penambahan kurikulum, membuat guru tidak lagi membuat administrasi pembelajaran.

Idealnya, setiap perubahan besar didampingi oleh pelatihan yang tuntas dan menyeluruh. Namun, kendala geografis dan jangkauan sering membuat sosialisasi di daerah terasa terburu-buru.

Akibatnya, pemahaman antar-guru di satu sekolah atau antar-daerah bisa sangat beragam. Sebagian guru terpaksa menerapkan aturan baru sembari meraba-raba di dalam kelas dan cukupkan dengan menggunakan buku paket saja.

3. Garis Depan yang Menanggung Semua Dampak

Ketika kurikulum baru dinilai kurang efektif atau membingungkan, kritikan pertama dari masyarakat maupun orang tua murid sering kali tertuju pada guru di sekolah. Padahal, guru hanya bertindak sebagai pelaksana kebijakan, bukan penentu keputusan utama.

Akibat gonta ganti kurikulum, guru tidak peduli dengan administratif sehingga di cukupkan dengan buku paket yang ada.

Menghadapi Perubahan Tanpa Kehilangan Arah

Dengan seringnya gonta ganti kurikulum membuat guru jadi bingung dalam membuat administratif, terasa jelas bahwa guru sebagai ladang uji coba dalam perkembangan pendidikan sejak Era Orde Baru, Era Reformasi hingga sekarang ini.

Di tengah ketidakpastian perubahan, hal terpenting yang perlu dijaga adalah esensi dari mengajar itu sendiri: hubungan emosional, pengayoman, dan proses pendampingan siswa yang paling utama.

Teknis dan nama kurikulum boleh saja berganti, tetapi pendekatan yang berfokus pada kebutuhan siswa serta ruang kelas yang penuh rasa aman dan kepedulian akan selalu relevan kapan pun, fokus pada materi yang akan disampaikan, hidupkan suasana pembelajan yang aktif dan efektif.

Post a Comment

0 Comments